Bento (弁当 bentō)[1] atau o-bentō ialah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik.
[caption id="attachment_135" align="alignnone" width="300"]
bento angry bird[/caption]Bentō biasanya dikemas untuk porsi satu orang, meski dalam arti luas dapat berarti makanan bekal untuk kelompok atau keluarga. Bento dibeli atau disiapkan sendiri di rumah. Saat dibeli, bentō sudah dilengkapi dengan sumpit sekali pakai, berikut penyedap rasa yang disesuaikan dengan lauk, seperti kecap asin atau saus uster dalam kemasan mini.
Ciri khas bentō ialah pengontrolan ragam lauk dan warna agar nikmat diamati serta mengundang selera. Bento bisa pula dihias dan disusun rapi dalam gaya yang disebut kyaraben. Kemasan bento senantiasa mempunyai tutup, dan wadah bentō bisa berupa kotak atau nampan segi empat dari plastik, kotak roti, atau kotak kayu kerajinan tangan yang dipernis. Ibu rumah tangga di Jepang dianggap perlu piawai menyiapkan bentō, sedangkan bentō dapat dibeli di mana-mana. Di Indonesia, hidangan ala bento mulai dipopulerkan jaringan cafe siap saji Hoka Hoka Bento semenjak tahun 1985. sumber wikipedia
Nah di indonesia sendiri, bento lebih di kenal sebagai makanan si kecil yang di hias sedemikian rupa sehingga anak-anak yang membawa bekal makanannya ke sekolah jadi motivasi memakannya.
Tidak hanya sebagai bekal si kecil sekolah, bento malahan sekarang bisa sebagai pemberian dalam event-event seperti ulang tahun si kecil.
Kami mendapatkan pesanan bento untuk event ulang tahun si kecil, silahkan di follow instagram kami @mini_bentobox atau WHATSAPP 081321509623 / blog kami bentobandung.blogspot.com/ untuk info berkaitan katalog dan pricelist bento event di bandung, cimahi dan padalarang.
pengiriman

silahkan untuk informasi lebih lengkap bisa mengunjungi blog kami Bento bandung bentobandung.blogspot.com/
The Billabong Soeta Modern Etnik Resindence, Soekarno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar